Hukum Akad Nikah di Masjid

BERITA AKTUAL ISLAM.COM — Mengingat tidak sedikit orang melaksanakan akad nikah di masjid, tentu timbul pertanyaan, bolehkah/afdalkah jika akad nikah dilaksanakan di masjid? Hal ini akan dibahas sebagai berikut.

 

Ust, apakah akad nikah lebih afdal dilakukan di masjid?

 

Jawaban:

 

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du.

 

Terdapat dua kesimpulan yang dipilih oleh para ulama berkaitan hukum Akad nikah di masjid:

 

[1] Sunah

 

Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama (Jumhur).

 

Disebutkan dalam Ensiklopedi Fikih,

 

استحب جمهور الفقهاء عقد النكاح في المسجد ؛ للبركة ، ولأجل شهرته ، فعن عائشة رضي الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( أعلنوا هذا النكاح واجعلوه في المساجد واضربوا عليه بالدفوف )

 

“Mayoritas ulama menganjurkan akad nikah dilakukan di masjid. Karena keberkahan masjid dan lebih memudahkan tersebarnya kabar pernikahan. Dari Ibunda Aisyah –radhiyallahu’anha-, beliau berkata, “Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

 

أعلنوا هذا النكاح واجعلوه في المساجد واضربوا عليه بالدفوف

 

“Umumkanlah pernikahan ini, laksanakanlah di masjid, kemudian pukul duf.” (Al-Mausu’ah Al-fiqhiyyah, 37/214)

 

Sehingga menurut pendapat ini, akad nikah lebih afdol dilaksanakan di masjid.

 

[2] Mubah

 

Menurut para ulama mazhab Maliki. Mubah artinya tidak ada berkaitan dengan anjuran dan larangan. Atau boleh-boleh saja.

 

Diterangkan dalam Hasyiyah Al-Kharkhi (salah satu referensi fikih mazhab Maliki),

 

وجاز بمسجد سكنى لرجل تجرد عن العبادة وعقد النكاح

 

Boleh bagi seorang tinggal di masjid meski tidak sedang dalam ibadah, dan boleh juga melangsungkan akad nikah di masjid. (Hasyiyah Al-Khorkhi 7/348)

 

Dari kedua pendapat ini, pendapat yang Mazhab Maliki lebih tepat insyaallah. Hal ini karena alasan berikut :

 

Pertama, hadis yang dijadikan dalil oleh jumhur ulama, yang berisi perintah melaksanakan akad nikah di masjid; tersebut di atas, statusnya dha’if.

 

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, beliau menilainya dha’if. Demikian Imam Ibnu Hajar, Imam Baihaqi dan pakar hadis zaman ini Syekh Albani menilai hadis tersebut dha’if. Karena diantara deretan perawi hadis ini terdapat perawi yang bernama, Isa bin Maimun, yang dinilai dha’if (kurang kredibel dalam meriwayatkan hadis) oleh para pakar hadis.

 

(Lihat : Silsilah al-Ahadis ad-Dho’ifah 2/409, Hadis no. 978)

 

Kedua, tidak adanya hadis sahih dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang berisi perintah untuk melangsungkan akad nikah di masjid, tidak juga tersebut dalam praktik para sahabat, kecuali hanya beberapa saja.

 

Itupun bukan karena meyakini adanya keberkahan tertentu saat akad nikah dilakukan di masjid (baca : Hadis Al-Wahibah). Namun, karena pertimbangan kondisi. Padahal mereka tinggal di kota Madinah yang terdapat masjid paling berkah setelah Masjidil Haram. Namun mereka tidak melakukan itu di masjid Nabawi, atau menjadikannya sebagai budaya.

 

Ini menunjukkan bahwa akad nikah di masjid bukan termasuk sunah, namun hanya perkara mubah.

 

Syekh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,

 

استحباب عقد النكاح في المسجد لا أعلم له أصلاً ، ولا دليلاً عن النبي صلى الله عليه وسلم ، لكن إذا صادف أن الزوج والولي موجودان في المسجد وعقد : فلا بأس ؛ لأن هذا ليس من جنس البيع والشراء ، ومن المعلوم أن البيع والشراء في المسجد حرام ، لكن عقد النكاح ليس من البيع والشراء ، فإذا عقد في المسجد : فلا بأس ، أما استحباب ذلك بحيث نقول : اخرجوا من البيت إلى المسجد ، أو تواعدوا في المسجد ليعقد فيه : فهذا يحتاج إلى دليل ، ولا أعلم لذلك دليلاً .

 

Berkaitan anjuran melakukan akad nikah di masjid, kami tidak mengetahui adanya dalil yang mendasarinya. Tidak ada hadis dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Namun jika prosesi pernikahan bertepatan di masjid, karena pengantin dan wali sedang berada di masjid, lalu melangsungkan akad nikah, maka tidak mengapa.

 

Karena akad nikah bukan termasuk akad jual-beli. Kita pun mengetahui bahwa haram hukumnya melakukan jual-beli di masjid. Namun, nikah tidak termasuk jual beli. Oleh karenanya, jika dilakukan di masjid tentu tidak mengapa.

 

Adapun menganjurkannya (atau menganggapnya sunah), ketika seorang memerintah, “Akadnya di masjid aja….” ini butuh dalil, dan kami tidak mengetahuinya adanya dalil yang memerintahkannya.

(Liqo’ Bab Maftuh hal. 167, soal no. 12, dikutip dari Islamqa)

 

Demikian ditegaskan dalam Fatawa Lajnah Da-imah,

 

ليس من السنَّة عقد النكاح بالمساجد ، والمداومة على عقد النكاح داخل المسجد واعتقاده من السنَّة : بدعة من البدع ؛ لما ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : ( من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد )

 

Melakukan akad nikah di masjid, bukan termasuk sunah. Merutinkan akad nikah di dalam masjid (artinya setiap ada prosesi nikah, mengharuskan/menganjurkan di masjid, pent) kemudian meyakininya sebagai sunah, adalah termasuk amalan yang bid’ah. Karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

 

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

 

Siapa yang membuat amalan baru dalam urusan agama kami, maka amalan itu pasti tertolak.

 

(Fatawa Lajnah Da-imah no. 9903, 18/111)

 

Wallahua’lam bis shawab.

 

Sumber: konsultasisyariah.com

 

 

3

Redaktur: admin [Berita Dunia Islam Paling Aktual & Terpercaya]

700

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *