Jejak Stereotipe Islam Radikal Dalam Lukisan

BERITAAKTUALISLAM.COM — “Islam Radikal” menjadi sebuah gambaran menakutkan bagi sebagian orang. Merupakan sekumpulan orang-orang yang mengatasnamakan Agama Islam tapi perilakunya jauh dari yang disyariatkan. Negara-negara di Eropa pun mengenal yang namanya Islamphobia, dimana di Negara tersebut Agama Islam menjadi pobia bagi sejumlah orang. Ternyata pemikiran tentang islam radikal bukan muncul baru-baru ini. Stereotipe Islam sebagai Agama yang radikal telah di propagandakan oleh seniman asal Perancis, Delacroix pada Abad ke-19.

Mengutip dari republika.co.id, Satrawan dan Guru besar falsafah kebudayaan Islam Univeristas Paramadina, Prof DR Abdul Hadi WM, mengatakan jejak sikap merendahkan (pejoratif)  dengan menganggap bahwa Islam dengan sebutan sebagai ajaran radikal, fundamentalis, tak toleran memang sudah terjejak dalam peradaban yang kini di kuasai oleh barat. Bentuk ekspresi mereka atas tuduhan itu bermacan-macam, mulai dari politik dan penjajahan yang sangat rumit hingga soal lukisan yang terkesan sederhana saja.

Salah satunya lukisan yang diberi judul “Fanatics of Tangier” menggambarkan fanatisme orang Islam karena selalu melawan kedatangan ekspedisi militer Napoleon. Gambaran streotipe ini terus berlanjut hingga kini, hanya berganti sebutan: dari kata fanatik ke kata lain seperti ekstrim, radikal, teroris dan sebutan berbagai pejoratif lainnya.

“Nah,  jika Delacroix masih hidup sampai sekarang, tentu dia akan melihat betapa pula bringasnya orang Perancis. Orang Eropa dan bangsa lain pun sebenarnya tak kalah fanatiks, jika rasa keagamaan atau nasionalisme mereka terganggu,’’ kata Abdul Hadi WM, Jumat (14/12).

 

Al Quran Terjemah Murah,klik disini

 

Dengan cara melukis seperti ini, lanjut Abdul Hadi, Delacroix ingin menyembunyikan kekejaman Napoleon alias penguasa Barat terhadap kaum Muslimin. Dan sekarang, berapa banyak penguasa bekas negara jajahan Eropa sadar akan politik ‘pemberitaan’ seperti ini.

“Inilah apa yang bisa disebut adanya fakta dibalik. Yang kejam disebut lembut, yang melawan terhadap kekejaman dipandang rasis, ekstrim dan radikal. Semua harus belajar pada kasazanah sejarah dunia ini,’’ tegasnya.

Seperti diketahui, suasana Islamphobia memang terasa kuat di Eropa. Kepolisian Jerman misalnya telah merilis angka kejahatan berlatar kebencian terhadap Muslim yang terjadi antara Januari dan September tahun ini. Dari angka yang dirilis pada Kamis (13/12), tercatat ada sebanyak 578 kasus Islamofobia di Jerman selama 2018.

Kementerian Dalam Negeri Jerman mengatakan, setidaknya ada 40 Muslim yang terluka dalam serangan yang sebagian besar dilakukan oleh ekstrimis kanan-jauh. Dilansir di Anadolu Agency, Jumat (14/12), kejahatan anti-Muslim yang dicatat oleh kepolisian Jerman tersebut mencakup kasus penghinaan, mengancam melalui surat, serangan fisik dan serangan terhadap masjid.

Partai Kiri oposisi, yang mengajukan pertanyaan parlemen, telah memperingatkan terhadap meningkatnya kampanye kebencian dan kekerasan terhadap umat Islam di negara itu. Sekitar 27 Muslim terluka dalam serangan antara Januari dan September tahun lalu.

Kasus Islamofobia dan kebencian terhadap para migran di Jerman telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan kebencian itu dipicu oleh propaganda dari partai-partai sayap kanan dan populis. Yang mana, mereka telah mengeksploitasi ketakutan atas krisis pengungsi dan terorisme.

 

Sumber: republika

image: republika

Redaktur: admin [Berita Dunia Islam Paling Aktual & Terpercaya]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *